Cianten PART II

Cerita saya lanjutkan dari lokasi pipa Chevron, beberapa orang berkumpul di ujung, kemungkinan foto2, saya lebih tertarik dengan pipa Chevron, kebetulan disana bercokol beberapa wisatawan domestik cilik sedang gelayutan dan foto2…eh taunya ada remaja putrinya…glek…malu2 kalau difoto, pake sembunyi muka segala, takut masuk infotainment kali ya?

Dengkul XTRSetelah ambil foto om Haji Azis dengan dengkulnya yang sakti, kita mulai jalan lagi sampai aspal habis dan mulai masuk singletrack, hujan mulai turun, jalan tanah turunan menjadi suangat licin…kebanyakan para peserta TTB, beberapa kesulitan nuntun sepeda dan berjatuhan, terlihat beberapa bapak-bapak sangat bijaksana dan hati2 dalam menuntun sepeda. Saya coba tetap berada diatas sadel walaupun kaki secara sporadis menapak tanah, sangat jauh dari gaya goes di turunan yang elegan.

Suara gemuruh sungai sudah mulai terdengar dan tujuan kita ke bawah sana, hujan makin lebat, jadi hampir tidak ada foto2 disini, selain takut air, ya takut terbentur juga hehe. Akhirnya kita sampai di kampung bawah dan beberapa ngopi2 di warung, sebagain bersihin sepedanya dari lumpur. Setelah ambil beberapa gambar, saya langsung meluncur ke sungai untuk mengambil beberapa gambar lagi

 

 

Lokasi warung setelah turunan dodonhilan

Dan ini kira2 gambar lansekap yang berhasil diambil di bawah:
PesawahanAkhir dari dodonhilan

Di lembah
Diujung lembah terdapat jembatan besi selebar kira2 20cm, cuman ada sekitar 3 bilah, gak terlalu sulit walaupun kalau salah melangkah sepeda kejeblos ke bawah…hiii….males mikirinnya haha
Jembatan besi penyebrangan

Selapas daerah ini mulailah jalanan naik turun dengan trek batu gunung yang melelahkan, turunan cape tanjakan apalagi, karena melintas disebelah kiri agak ke atas dikit dari sungai, banyak foto2 yang bisa diambil disini…

Jalanan di pinggiran sungai

Perjalanan seperti ini sekitar 1 jam perjalanan…suasana mendung dengan awan hitam, cocok buat pemotretan, beberapa teman yang tercecer dibelakang menjadi teman setia selama pemotretan, berikut beberapa hasil foto2 nya:
Keceriaan anak2 kampung menyambut para goeserSungai sepanjang jalan batuOm U’us jadi model

Teman2 yang kecapean kembali seger setelah di foto 🙂
Stone Alonelansekap
Masjid diujung jalan batuDiujung desa lepas dari jalan batu gunung menuju jalan aspal,kita beristirahat di Mesjid, waktu sudah jam 2 siang, yang penting sholat dulu, setelah sholat jadi tenang….beberapa isi bensin dengan menenggak baso…walhasil tukang baso okaya mendadak, jualannya ludes sampe ke kuah2nya…teman2 goeser pada bringas hehehe…
Selepas rute ini, dimulailah rute onRoad aspal mulus, beberapa turunan sangat nikmat, tetapi beberapa tanjakan bikin saya TTB, bapak2 yang tadi TTB di turunan ternyata baru terlihat keperkasa’annya….hampir tidak ada yang TTB. Saya daripada keram dan mogok lututnya, terpaksa TTB pelan-pelan hehehe…

Setelah sekitar 30 menit sampai di pasar entah namanya apa, sudah sekitar jam 3, belum makan siang, kepala sudah cenut2, celingak celinguk melilhat beberapa warteg…pingin rasanya berenti dan makan, tapi saya gak tau jalan, kalau ditinggal gimana? Selagi saya celingak celinguk, seorang goeser bernama pak Tody juga melakukan gerak gerik yang sama mencurigakannya dengan saya hahaha…. saya tanya…pak mau makan?? beliau langsung setuju…sakit maag katanya, wah cocok, saya juga ada maag pak, yuk makan, langsung deh…menepi…makan di warteg plus teh manis anget benar2 mantab, beberapa goeser di belakang kami tidak berenti makan dan meneruskan perjalanan, saya cukup tenang karena ada temannya, kalaupun nyasar ya nyasar berdua hehe. Terima kasih ditraktir ya pak Tody, dompet saya masih ada didalam plastik, jadi kalah sepersekian detik mengeluarkan uangnya hehe

Selepas makan kita mulai ngebut menyusuri jalanan aspal sambil sesekali bertanya kepada anak2 kecil apakah ada rombongan sepeda yang lewat sini? kami masih tenang karena ternyata orang2 disini jujur2 semua. Per telepon pun teman2 yang didepan menunggu kami karena ternyata ada belokan ke kiri masuk off road lagi. Ada sedikit accident pada sa’at anak2 kampung minta tos ala pembalap nasional, awalnya saya di depan pas memberi isyarat High Five, mereka langsung mengerumun, tangan kiri kasih tos…tangan kanan tetep siaga pengang rem depan. Saya berhasil lolos walaupun tangan hampir ditarik oleh anak2. Pak Tody yang dibelakang lebih parah, seorang anak kecil melintas di depannya tiba2, karena sepeda beliau kanan depan remnya, walhasil begitu kaget dan rem mendadak, hampir saja terjungkir, lutut beliau sedikit lecet karenanya.

Setelah kita meneruskan perjalanan dan akhirnya bertemu dengan kawan2 di belokan ke kiri agak nanjak, mulailah perjalanan semi singletrack…yang jelas tidak aspal lagi….disini pemandangan lumayan juga, terlebih matahari sudah condong ke barat, sinarnya cocok sekali buat pemotretan hehe…
Simak gambar2 berikut sepanjang off road dan berakhir di Karacak.
Sisi saluran air menuju turbin

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: